Kehidupan di Kamboja

Setelah memiliki banyak blog yang menceritakan banyak hal, kini saia membuat blog khusus mengenai opini saia terhadap perjalanan yang pernah saia lalui. Saat ini saia akan menceritakan sudut pandang saia terhadap kehidupan masyarakat di Cambodia. Untuk ulasan mengenai perjalanannya sendiri dapat di lihat di blog http://www.menmybestfriends.blogspot.com. Menginjakkan kaki pertama kali di bumi Kamboja itu bulan Juli tahun 2015 dalam rangka short trip bersama teman-teman mengarungi Asia Tenggara. Menginjakkan kaki pertama kali di bumi Kamboja tepatnya di Phnom Penh (PP) merupakan hal yang menakjubkan untuk saia. Kisah perjalanan sendiri sudah tertulis dalam blog saia. Saia ingin menceritakan kehidupan masyarakat Kamboja dari sudut pandang saia seorang traveler awam. Kamboja, dunia yang sesungguhnya cantik tapi kurang tersentuh fasilitas. Ketika saia naik tuktuk ke arah dan pulang dari Killing Field, saia melihat pemandangan yang menurut saia agak miris. Di tuktuk sendiri, saia menggunakan masker dikarenakan gumpalan debu seperti padang pasir. Cuaca yang panas menambah situasi yang menurut saia riweuh. Saia melihat pemandangan yang tak biasa terjadi di bumi pertiwi. Pada saat sore jam pulang kantor, saia melihat ada banyak truk yang mengangkut para pekerja. Sepertinya bukan hanya para pekerja, tetapi juga para anak sekolahan. Truk tersebut ditambahi papan-papan untuk alas pijakan kaki agar dapat menampung lebih banyak orang. Semua orang berdiri rapat. Jadi inget commuter line Jakarta yang padat sekali di pagi dan sore hari pulang kantor tapi masih ada sejuknya ac yang walaupun juga taraf dinginnya ac commuter line ada beberapa yang meragukan. Mereka terlihat biasa saja dan seperti sudah menjadi pemandangan umum. Saia jadi teringat di Jakarta, truk semacam itu biasanya untuk mengangkut sapi atau hewan-hewan lainnya, masih lebih bagus truk pengangkut air mineral di Jakarta dibandingkan dengan truk pengangkut manusia di Kamboja.

Belum habis rasa keheranan saia terhadap truk pengangkut manusia yang pastinya sudah bekerja seharian, saia melihat pemandangan lain. Saia tidak tahu persis jam berapa anak-anak sekolah di Kamboja masuk kelas. Satu hal yang saia tahu pasti, siang hari saia memandang arah sekolah anak-anak yang asyik bermain diluar sampai dengan sore hari jam 5 sang guru memanggil untuk berbaris dan siap-siap pulang. Hujan ketika itu turun dan saia masih mendengar deru riang anak-anak berlari-lari dan bermain. Saia tidak tahu apakah itu jam istirahat atau sedang ada pelajaran di luar sekolah. Bisa juga ternyata sudah jam pulang, tapi masih ada yang bermain-main di sekolah. Seketika hati saia menjadi nelangsa entah mengapa.

Banyak anak-anak jadi peminta-minta di depan tempat wisata yang dikunjungi oleh para turis. Miris sekali melihatnya. Di Indonesia, banyak juga saia temui kasus serupa, tapi entah mengapa disini saia melihat sesuatu yang berbeda. Beruntunglah sebenarnya Indonesia. Kaya akan sumber alam, kehidupan yang lebih baik dan hal-hal lainnya yang lebih baik.

Lihatlah lebih dekat. Maka kita akan melihat betapa beruntungnya kita hidup di bumi Indonesia. Mengeluh karena hal kecil, banyak terjadi. Lihatlah lebih dekat. Lihatlah kepada orang-orang yang berharap berada di posisi kita. Bersyukurlah dan belajarlah mulai mensyukuri apa yang ada pada diri kita. Kamboja dan kehidupannya mengajarkan hal-hal yang perlu kita teladani dalam hidup ini. Hidup ini tidak mudah, perlu perjuangan. Hidup ini tidak memberikan kebahagiaan, tapi kitalah faktor penentu dari kebahagiaan itu. Semoga semakin hari kita semakin lebih dapat melihat lebih dekat.