Si cantik Austria

Hari ini suasana begitu tenang. Di bulan November di hari terakhir bulan ini cuaca cukup cerah. Teringat bulan lalu, saia baru saja berkunjung ke beberapa negara di benua biru. Benua yang membuat saia falling in love. Salah satu yang saya impi-impikan selama ini adalah Swiss. Negara impian sejak kecil. Tapi, di akhir bulan November ini saia tidak membahas tentang Swiss dulu yaa, membahas tentang negara cantik lainnya yang bikin saia sungguh-sungguh falling in love dan negara itu adalah Austria. Saia sendiri sih gak lama berada di negara cantik ini, tapi saia cukup senang dapat kesempatan ke Vienna dan Salzburg.

Austria negara cantik dengan kehidupan yang saia lihat dari luar benar-benar nyaman. Jadi ingin menetap di sana selamanya….hahahaha…apa yah yang bikin saia falling in love dengan Austria yang cantik ini? Di sepanjang jalan kota Vienna yang cantik, saia melihat banyak orang-orang berpakaian seperti musisi. Mungkin karena sang maestro Mozart dilahirkan di negara cantik ini, tepatnya di Salzburg. Pemandangan kota negara cantik ini benar-benar indah, rumput-rumput dan pegunungan hijau yang terhempas luaaaaasssss….ahhh, seperti di surga….lohhh, kok tau surga? emang pernah ke sana? hihihihi….memang belum sih, tapi yang pasti surga pasti lebih indah dari negara cantik ini.

Saia betul-betul menikmati perjalanan selama menyusuri negara cantik ini. Apalagi disepanjang perjalanan disuguhi oleh film-film tentang negara cantik ini. Benar-benar senang banget tak terkira. Kehidupan begitu tenang, damai dan bahagia. Seandainya saja….yaaa, seandainya saja aku bisa tinggal di sana….hahaa…ngarep dan mimpi….

Saia sungguh sangat kagum melihat begitu banyaknya dan luasnya tanah-tanah subur yang indah menghijau. Seperti yang ada di cerita-cerita dongeng. Ternyata benar adanya suatu tempat yang betul betul indah. Konser musik banyak ditawarkan di jalan-jalan Vienna yang sayangnya saia gak ikut karena harga tiket konsernya mahal untuk ukuran kantong saia. Kadang suka nyesel juga sih yaa, kenapa ga sekali seumur hidup untuk lihat konser di Vienna. Semoga ada kesempatan lain melihat negara cantik ini lagi. Kalau Tuhan berkendak, siapa yang dapat membantah?

Vienna yang cantik tetap menjadi impian Vienna, si cantik nan klasik. Dari Vienna menuju Salzburg Salzburg, Kota Sang Maestroyang merupakan kota kelahiran sang komposer besar, Mozart. Ke museum Mozart, melihat-lihat sejarahnya, bangunan rumahnya, keluarganya dan semua tentang Mozart. Di banding Vienna, mungkin Salzburg kalah cantik, tapi tetap cantik dan ngangenin. Saia suka Salzburg. Ada jembatan yang indah banget dengan sungainya yang super bersih. Salzburg memiliki kesan tersendiri. Apalagi pada saat saia ke sana sedang autumn, jadi suasana benar-benar mengasyikkan.

Sepanjang saia berada di negara cantik ini, saia tidak pernah melihat anak-anak sekolah atau orang kantoran. Mungkin karena saia juga tidak tahu membedakan yang mana anak sekolahan atau orang kantoran kali yaa….hehee. Bisa juga sedang pada libur atau waktu saia ke sana sedang hari libur, ya tidak tahu juga.

Menginjakkan kaki di negara cantik ini adalah satu anugerah yang indah yang pernah saia dapatkan dari Tuhan. Tuhan yang mengizinkan saia untuk dapat mengenal negara cantik ini yang dulu sewaktu kecil hanya ada dalam buku cerita saja. Pegunungan Alpen pun ternyata membentang di negara cantik ini. Selama ini dikira hanya ada di Swiss.

Saia masih memiliki harapan untuk dapat kembali ke negara cantik ini. Ingin menikmati waktu lebih lama. Ingin menelusuri jalan-jalan lainnya yang tidak saia sebrangi waktu berkunjung ke sana. Saia ingin melihat lebih dekat kehidupan masyarakat negara cantik ini. Saia tidak pernah melihat ada peminta-minta ataupun tindakan kejahatan selama saia di sana. Saia jadi makin falling in love karena hal ini.

Harapan adalah doa. Tiada yang mustahil yang dapat dilakukan oleh Tuhan. Ketika DIA mengizinkan saia menginjakkan kaki di negara cantik ini sekalipun saia tak pernah memimpikannya, saia pun yakin, DIA akan kembali untuk mengizinkan saia sekali lagi untuk kembali ke negara cantik ini.

Kapan waktunya? Entahlah. Mungkin besok. Mungkin Lusa. Mungkin tahun depan. DIA membuat segala sesuatu indah pada waktunya…hanya itu yang selalu saia percaya…yukk, jika tidak bermimpi saja dapat meraih negara cantik ini, apalagi jika memiliki mimpi? quote yang sangat saia suka dari tetralogi Laskar Pelangi “bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”.

Kehidupan di Kamboja

Setelah memiliki banyak blog yang menceritakan banyak hal, kini saia membuat blog khusus mengenai opini saia terhadap perjalanan yang pernah saia lalui. Saat ini saia akan menceritakan sudut pandang saia terhadap kehidupan masyarakat di Cambodia. Untuk ulasan mengenai perjalanannya sendiri dapat di lihat di blog http://www.menmybestfriends.blogspot.com. Menginjakkan kaki pertama kali di bumi Kamboja itu bulan Juli tahun 2015 dalam rangka short trip bersama teman-teman mengarungi Asia Tenggara. Menginjakkan kaki pertama kali di bumi Kamboja tepatnya di Phnom Penh (PP) merupakan hal yang menakjubkan untuk saia. Kisah perjalanan sendiri sudah tertulis dalam blog saia. Saia ingin menceritakan kehidupan masyarakat Kamboja dari sudut pandang saia seorang traveler awam. Kamboja, dunia yang sesungguhnya cantik tapi kurang tersentuh fasilitas. Ketika saia naik tuktuk ke arah dan pulang dari Killing Field, saia melihat pemandangan yang menurut saia agak miris. Di tuktuk sendiri, saia menggunakan masker dikarenakan gumpalan debu seperti padang pasir. Cuaca yang panas menambah situasi yang menurut saia riweuh. Saia melihat pemandangan yang tak biasa terjadi di bumi pertiwi. Pada saat sore jam pulang kantor, saia melihat ada banyak truk yang mengangkut para pekerja. Sepertinya bukan hanya para pekerja, tetapi juga para anak sekolahan. Truk tersebut ditambahi papan-papan untuk alas pijakan kaki agar dapat menampung lebih banyak orang. Semua orang berdiri rapat. Jadi inget commuter line Jakarta yang padat sekali di pagi dan sore hari pulang kantor tapi masih ada sejuknya ac yang walaupun juga taraf dinginnya ac commuter line ada beberapa yang meragukan. Mereka terlihat biasa saja dan seperti sudah menjadi pemandangan umum. Saia jadi teringat di Jakarta, truk semacam itu biasanya untuk mengangkut sapi atau hewan-hewan lainnya, masih lebih bagus truk pengangkut air mineral di Jakarta dibandingkan dengan truk pengangkut manusia di Kamboja.

Belum habis rasa keheranan saia terhadap truk pengangkut manusia yang pastinya sudah bekerja seharian, saia melihat pemandangan lain. Saia tidak tahu persis jam berapa anak-anak sekolah di Kamboja masuk kelas. Satu hal yang saia tahu pasti, siang hari saia memandang arah sekolah anak-anak yang asyik bermain diluar sampai dengan sore hari jam 5 sang guru memanggil untuk berbaris dan siap-siap pulang. Hujan ketika itu turun dan saia masih mendengar deru riang anak-anak berlari-lari dan bermain. Saia tidak tahu apakah itu jam istirahat atau sedang ada pelajaran di luar sekolah. Bisa juga ternyata sudah jam pulang, tapi masih ada yang bermain-main di sekolah. Seketika hati saia menjadi nelangsa entah mengapa.

Banyak anak-anak jadi peminta-minta di depan tempat wisata yang dikunjungi oleh para turis. Miris sekali melihatnya. Di Indonesia, banyak juga saia temui kasus serupa, tapi entah mengapa disini saia melihat sesuatu yang berbeda. Beruntunglah sebenarnya Indonesia. Kaya akan sumber alam, kehidupan yang lebih baik dan hal-hal lainnya yang lebih baik.

Lihatlah lebih dekat. Maka kita akan melihat betapa beruntungnya kita hidup di bumi Indonesia. Mengeluh karena hal kecil, banyak terjadi. Lihatlah lebih dekat. Lihatlah kepada orang-orang yang berharap berada di posisi kita. Bersyukurlah dan belajarlah mulai mensyukuri apa yang ada pada diri kita. Kamboja dan kehidupannya mengajarkan hal-hal yang perlu kita teladani dalam hidup ini. Hidup ini tidak mudah, perlu perjuangan. Hidup ini tidak memberikan kebahagiaan, tapi kitalah faktor penentu dari kebahagiaan itu. Semoga semakin hari kita semakin lebih dapat melihat lebih dekat.