Yogyakarta

Holaaaaaaaa….setelah sekian lama gak nulis blog ini dikarenakan kesibukan yang memuncak akhir-akhir ini sehingga baru menulis lagi hari ini. Kali ini saia akan menceritakan tentang Yogyakarta. Sebenarnya pernah cerita tentang kota yang disebut kota pelajar ini ya beberapa waktu yang lalu. Saia kembali mengunjungi Yogya itu tanggal 26-28 Oktober 2018 dalam rangka outing kantor. Banyak hal menarik yang dapat diulas di Yogya, salah satunya adalah Prambanan. Saia sudah pernah ke Prambanan tahun 2012. Suasana panas banget, bener-bener panas dan sangat panas.

Perjalanan dimulai dari Gambir. Kebetulan saia hampiiiiirrrrr telat dikarenakan jalanan yang macet menuju Gambir. Ternyata, saia beruntung karena keretanya delay. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama 8 jam sebelum tiba di stasiun Tugu, Yogyakarta. Menuju hotel dan malamnya jalan-jalan ke Bakmi Jawa mbah Gito ya klo gak salah. Foto-fotonya menyusul karena ada di hp satu lagi dan saia gak bawa hp nya hari ini…hehehehe…saia pesan mie rebusnya dan rasanya lumayan enak menurut saia. Saia gak tau sih, itu makanan enak karena saia emang laper atau bagaimana yaa…hehehehe…harga kerupuknya murah banget, hanya 1000 rupiah.

Besoknya jalan-jalan di Prambanan yang saat itu udaranya sangat amat panas sekaleeeeeeeee (*lebayyyy). Dari Prambanan balik ke hotel lalu sorenya jalan-jalan ke Malioboro. Karena saia pulangnya keesokan harinya dan itu penerbangan pagi, jadi gak ada acara jalan-jalan lagi. Tadinya ada keinginan jalan ke Raminten, tapi acara malam minggunya terlalu malam selesainya, sehingga udah pada tepar semua yang niatan ke Raminten, gak jadi deh. Secara keseluruhan, gak ngebosenin sih Yogya, banyak banget yang bisa dieksplor. Kemarin itu, waktunya memang sempit, jadi gak bisa eksplor lebih luas lagi. Rencana Desember nanti bakalan ke Yogya lagi….ke Yogya ku kan kembali….

Museum Bahari

Ini kelanjutan dari cerita kemarin yaa. Setelah dari Museum Sejarah, kami semua menuju museum Bahari. Kalau jalan kaki lumayan jauh juga, jadi kami ada yang naik bajaj dengan ongkos 15rb atau bisa juga menggunakan taksi online dengan tarif 10rb. Panas banget dan pas sampai rasa-rasanya kok saia jadi lemas…hehehehe…naik ke atas bangunan yang katanya bisa ngeliat pelabuhan Sunda Kelapa. Bangunannya terdiri dari 3 bangunan bertingkat gitu dan sesampainya di atas akan kerasa kalau bangunannya miring, jadi rada-rada pusing juga sih dikit…hehehehe

WhatsApp Image 2018-10-02 at 10.59.42 AM (4)
Dilihat dari atas bangunan

Saia kok gak ngeliat ada pelabuhan Sunda Kelapa yaa…hehe…dari bangunan ini, kita diajak ke museum Bahari. Oalaaaa…kirain nih bangunan museum Bahari, tau-tau harus jalan lagi sekitar 5 menit menuju museum Bahari yang sesungguhnya.

Di museum Bahari, kita akan lihat macam-macam jenis kapal. Ada kapal Pinisi, Dewa Rutji dan kapal-kapal lainnya.

WhatsApp Image 2018-10-02 at 10.59.42 AM (3)
kapal Pinisi

Disini juga ada diorama para pelaut seperti Laksamana Cheng Ho, Laksamana Malahayati, Fatahillah, Vasco da Gama, dll. Pokoke seru banget deh main kesini. Jadi keingetan sama pelajaran waktu sekolah dulu. Ada juga ikan-ikan yang diawetkan, jenis-jenis kayu dari yang jati sampai kayu yang jika direndam air makin lama makin kuat tapi kalau di darat jadi keropos. Ada juga kapal-kapal yang dipakai sampai ke Luar Negeri. Ada jenis meriam beserta kode-kodenya yang mengartikan dimana meriam itu dibuat. Beratnya 600 kilogram…

Disini juga ada cafenya, tapi kemarin itu sih kata pemandunya belum jadi. O iya, pintu menuju diorama pelaut itu masih asli loh, usianya udah lebih dari 300 tahun!!! Masih awet banget. Emang keren bangetlah ya itu si kayu jati.

Tadinya, dari museum Bahari mau lanjut ke museum Fatahillah, tapi gak jadi karena waktu mepet. Museum jam 4 tutup. Akhirnya balik deh ke tempat awal dan anak-anak naik sepeda.

Naik sepeda bayarnya 20rb/setengah jam. Saia juga coba naik sepeda, seru juga sih, tapi sayangnya panas banget…hehe…sekian cerita saia kali ini.

Museum Sejarah

Selamat sore. Saia hari ini cerita tentang perjalanan ke museum Sejarah, kemarin 30 September 2018. Serombongan 19 orang dari anak-anak hingga dewasa.

Dari stasiun Jakarta Kota tinggal jalan kaki aja ga jauh. Kita dipandu sama pemandu dan ini fasilitas dari kenalan jadinya semuanya FREE.

Di museum Sejarah bisa ngeliat asal muasal Jakarta, adat Betawi yang dipengaruhi budaya Cina dan Arab, prasasti, penjara bawah tanah, dll. Untuk penjara wanita ga bisa diakses karena sedang perbaikan. Menurut pemandunya, Cut Nyak Dien pernah dipenjara disini sebelum diasingkan. Terdapat sumur juga yang dulunya buat minum orang-orang di sana pada jaman itu. Sumurnya sekarang kotor gitu trus ada ikan lelenya. Dulu gak ada lelenya, sekarang dibikin lele agar mengindari nyamuk. Gitu cerita pemandunya.

Wisata museum Sejarah seru juga. Dari sini kita menuju ke museum Bahari. Cerita museum Bahari besok diceritain yaa…