Setelah 245 Purnama the Series – Huta Ginjang dan Sipinsur

Selamat malam. Maapkeun telat update dikarenakan sinyal yang tidak mendukung. Ini juga saia tathering dari si Orat berhubung HP saia benar-benar tidak bisa diharapkan. Tadinya saia udah nulis Draft cerita ini sampai dua kali dan keduanya terhapus dengan sempurna. Jadinya, memenuhi janji, saia minta tathering dari si Orat dan ngetik pakai iPad. iPad penyelamat.

Hari ini saia berpetualang ke Huta Ginjang. Kalau terjemahan bebasnya sih, Kampung Tinggi. Udara disini dingin banget. Biar hampir tengah hari, walaupun ada panas matahari, tetep dinginnya semriwing.

20181219_110318.jpg
Huta Ginjang

Disini ada tugu dengan lambang tangan orang yang sedang berdoa. Di dekat pintu masuk ke arah tugu dan ke arah tangga bawah, ada kaleng kerupuk yang dibolongin tengahnya dan juga ada bangku plastik. Saia udah yakin, kalau itu maksudnya ada bea masuknya. Tiba-tiba, ada anak kecil duduk di kursi plastik itu dan terjadilah percakapan saia dengan si anak kecil itu. Anak kecil itu, logatnya logat daerah banget, jadi baca percakapannya sekalian bayangin logatnya ya.

Anak kecil : kakak, bayar uang masuk 2 ribu

Saia : ada apa di bawah sana?

Anak kecil : ada bukit doa

Saia sebenarnya ga mudeng itu anak ngomong apa. Tapi, si Orat mudeng jadinya saia mudeng juga kalau anak itu ngomong “bukit doa”.

Saia keluaran duit 2 ribu satu-satunya yang ada di tas. Si Orat saia suruh bayar sendiri, karena saia nda punya duit dua ribuan lagi.

Anak kecil : dua ribu

Saia : satu orang 2 ribu kan? Jadi kalau dua orang 4 ribu.

Anak kecil : dua ribu

Saia : berdua dua ribu?

Anak kecil : iya

Saia : (bingung)

Terus, saia denger ada ibu-ibu teriak per orang dua ribu. Si Orat gak jadi ikut karena dia dipanggil balik ke tempat awal duduk-duduk. Sebelum saia turun, saia sempat denger ibu-ibu yang sama ngomong dengan bahasa daerah ke anak kecil tadi yang untungnya saia ngerti , artinya kurang lebih “bagus sekali uang mu”.

Saia gak gitu turun ke bawah karena tangganya banyak dan bangunannya kurang terawat. Jadi foto-foto dari tangga pertama aja. Sempat juga foto-foto di dekat tugu yang berlambang tangan berdoa itu.

Foto-foto pemandangannya bagus.

Dari Huta Ginjang saia melipir ke Sipinsur. Disini bisa foto Danau Toba yang keren banget dan slot ya memang bagus alias pas. Disini juga ada terpampang cerita tentang asal usul Danau Toba. Masuk ke sini gak bayar, hanya bayar biaya kebersihan ada seikhlasnya. Saia makan nasgor dan nasgor ya enak banget (mungkin karena saia lagi super laper….hahahaha).

Disini ada cerita tentang asal usul Danau Toba juga. Silakan dibaca.

20181219_140934
Cerita asal usul Danau Toba

Berikut foto-foto yang saia ambil di Sipinsur.

Sekian cerita saia untuk hari ini. Sampai jumpa besok di cerita selanjutnya tentang perjalanan Setelah 245 Purnama the Series.

Published by

Unknown's avatar

My Journey My Story

Hobi menulis, traveling dan membaca buku. Memiliki cita-cita melihat berbagai bagian dunia dengan lebih dekat.

Leave a comment